"Terima kasih sudah menjadi jalan kesembuhan anak saya."
Salah satu artikel blog saya tentang pengalaman tak mengenakkan, yaitu saat terkena kista tiroid berdiameter sekitar 5 cm, ternyata bisa menjadi jalan kesembuhan bagi orang lain. Komentar ini ditulis oleh seorang ibu yang anaknya sudah 5 tahun mengalami benjolan di leher dan sudah berobat ke mana-mana, namun belum menemukan solusi. Setelah membaca tulisan saya, beliau langsung membawa anaknya konsultasi ke dokter dan rumah sakit yang sama.
Bila mengingat perjuangan saya untuk sembuh waktu itu, memang menguras energi dan menguji mental. Mayoritas dokter yang saya datangi, mulai dari spesialis penyakit dalam hingga spesialis bedah, semuanya menyarankan untuk melakukan operasi pengangkatan kelenjar tiroid. Dampaknya tidak main-main, saya harus minum obat seumur hidup. Operasi di area leher juga berisiko menimbulkan implikasi, misal mengenai pita suara. Malah ada yang tidak bisa bicara setelah operasi tiroid. Kan seram.
Bersyukur akhirnya perjalanan itu bermuara juga pada penanganan yang tepat tanpa perlu kehilangan kelenjar tiroid. Saya mendatangi dokter spesialis endokrin bernama dr. Dante, di salah satu rumah sakit tempat beliau praktik, yaitu di MMC. Kistanya bisa disedot dan cuma butuh waktu penanganan beberapa menit saja. Alhamdulillah setelahnya benjolan itu perlahan mengempes.
Karena terbiasa menulis banyak pengalaman di blog, saya abadikan salah satu kisah hidup tersebut dalam dua artikel blog terpisah.
Tidak menyangka artikel yang sudah terunggah sejak tahun 2019 itu, masih ramai dibaca dan membantu banyak orang dengan penyakit serupa. Bahkan kemarin ini masih ada yang menghubungi lewat email bahwa dia sudah mendaftar untuk konsultasi juga dengan dr. Dante di rumah sakit MMC.
Blog yang lahir dari niat untuk mengisi waktu, berhasil membawa kebermanfaatan diri sejauh itu. Ajaib saja rasanya. Keberadaan saya, pengalaman saya, tulisan saya, bisa memberi solusi pada mereka yang bahkan tidak pernah bertemu sama sekali. Itulah titik di mana saya ingin lebih bermanfaat lagi melalui jejak digital yang ditinggalkan dalam blog yang saya punya.
Bisa jadi hal yang kita anggap sederhana, receh, dan cuma sekadar curhat, akan sangat berarti bagi orang lain.
Blogging Melahirkan Diri Saya yang Sekarang
Saya bilang "ditakdirkan" karena memang jalannya mengalir begitu saja tanpa rencana. Tak pernah terbayangkan sebelumnya saya akan menjadi blogger. Seperti kebanyakan ibu-ibu yang bingung hendak melakukan apa di rumah setelah memilih resign, itulah alasan sederhana yang membuat saya terdorong memasuki dunia ini. Setelah gagal membuka usaha online jualan baju, makanan, hingga menjadi dropshipper, yang rasanya tak ada "jiwa" saya di sana, akhirnya saran santai suami untuk membuat blog, saya terima.
Saya pikir mudah. Bikin blog, lalu tulis-tulis, selesai. Kalau mau dapat penghasilan, tinggal daftar AdSense, pundi-pundi uang akan terkumpul dengan sedirinya. Ternyata, blogging itu bak gunung es! Yang tak tampak, jauh lebih banyak dari yang tampak.
Semakin aktif mengelola blog, saya semakin sadar bahwa saya tidak tahu apa-apa soal blogging.
Saya bingung hendak mempelajari mulai dari mana. Saking banyaknya yang asing bagi saya. Berhadapan dengan kenyataan bahwa kemampuan menulis saya yang masih seadanya saja, sudah membuat saya kewalahan menulis artikel 500 kata. Karena saya memang tidak pernah menulis selain untuk tugas sekolah atau kuliah. Belum lagi perihal optimasi, tampilan blog, riset keyword, menyiapkan foto yang bagus, dan lain sebagainya. Bagaimana saya tidak tertekan?
Inilah yang saya maksud dengan gunung es. Yang terlihat memang hanya artikel yang tuntas dibaca beberapa menit, tapi di baliknya, sungguh sangat kompleks.
Tidak heran bila di awal-awal ngeblog dulu, artikel saya hanya seputar resep MPASI yang hanya menuliskan bahan dan cara memasaknya. Itu pun saya sudah berpikir ekstra untuk menulis paragraf pembuka dan penutupnya. Sedihnya, tak ada pula yang baca. Kontras sekali dengan blog lain yang statistik kunjungannya mencapai jutaan.
Apa menyerah saja? Tentu saya pernah berpikir seperti itu. Terlebih setelah melahirkan anak kedua yang jarak usianya hanya 2 tahun dengan kakaknya. Bukan hanya teknis blogging saja yang terasa berat. Mengatur waktu, mengelola emosi, hingga mengumpulkan konsentrasi, sungguh membuat saya lelah. Lagian, kalau saya tidak menjadi blogger, tidak apa juga kan? Itu yang saya pikir.
Untungnya, takdir masih mempertahankan langkah saya. Entah kenapa, saya yang gampang bosan, tetap setia menulis blog. Meski proses belajarnya membutuhkan waktu panjang, bahkan masih berlanjut sampai detik ini, saya sangat menikmatinya.
Meminjam istilah kekinian, sepertinya saya menemukan apa yang dikatakan sebagai passion. Saya berpikir untuk menyerah, nyatanya masih kembali lagi dan lagi. Saya masih mengusahakan menulis artikel baru walau hanya satu paragraf sehari. Sekarang, saya menganggap itu sebagai "bumbu-bumbu" dari sisi manusiawi yang terkadang lelah menghadapi tantangan. It's OK.
Tak sedikit yang bertanya bagaimana saya bisa sekonsisten itu menulis blog sembari mengurus dua anak. Apa tidak capek? Apa tidak susah? Jelas melelahkan dan tidak mudah. Tapi, ketika ambisi saya mengatakan untuk tetap ngeblog, hal yang sulit itu bukannya tidak mungkin untuk dilakukan. Terkadang tidak ada salahnya kita memaksakan diri demi mencapai tujuan.
Sekalian berbagi cerita, mungkin ada di antara teman-teman yang juga merasakan tantangan yang sama dalam meniti perjalanannya sebagai blogger, berikut beberapa cara yang saya lakukan untuk mengatasi beberapa tantangan yang paling sering datang. Bukan berarti tantangan itu bisa langsung selesai, karena seiring waktu, pasti ada saja tantangan baru atau tantangan yang sama mungkin saja berulang. Namun setidaknya, apa yang saya lakukan ini, bisa mengurangi rasa beratnya. Sehingga lebih enjoy untuk tetap melanjutkan aktivitas ngeblog.
💢 Banyak Tidak Bisanya
Tidak ada manusia normal yang tiba-tiba hebat. Jadi, kalau kita merasa banyak tidak bisanya, ya, wajar. Berarti kita masih di awal proses. Blogger yang sekarang kita anggap hebat itu, pasti punya garis start masing-masing. Masak iya tiba-tiba jago? Ini hal yang sudah sama-sama kita tahu, tapi sering lupa.
Nah, berhubung ada banyak skill yang mesti dikuasai dalam blogging, mulai dari menulis, memotret, editing visual, SEO, riset, dan lainnya, pasti yang sudah lama ngeblog paham banget kebutuhan ini, akan lebih baik kalau kita menyadari dulu kesanggupan diri. Memang menguasai semuanya adalah yang terbaik, tapi tidak masalah kok kalau nyatakan kita tidak sanggup menguasai dari A sampai Z soal blogging. Tentunya kemampuan lain selain kemampuan menulis, ya. Enggak mungkin kan bloger enggak bisa nulis? Wong konten utamanya adalah tulisan.
Perlu digarisbawahi, maksudnya bukan meninggalkan kemampuan-kemampuan tersebut sepenuhnya. Misal seperti saya yang memilih untuk menyerahkan urusan SEO ke ahlinya saja. Karena saya belum punya waktu yang cukup untuk mempelajari SEO secara mendalam. Tidak terlalu suka juga setelah dicoba. Dari pada aktivitas ngeblog saya menjadi beban dan akhirnya malah malas bikin artikel baru, mending saya sederhanakan saja dengan hanya menerapkan SEO dasar. Tidak jago SEO, setidaknya tahu lah penerapan heading dan subheading, serta konsultasi berkala dengan pakarnya. Atau kalau tidak mahir memotret, minimal bisa lah foto-foto. Tidak sanggup bikin template, boleh beli ke pihak tepercaya. Yang penting blog tetap sehat dan terkelola dengan baik.
💢 Tidak Sempat Menulis
Sempat atau tidak, itu tergantung prioritas. Betul juga sih apa yang digaungkan konten-konten galau. Selama belum menjadikan ngeblog sebagai prioritas, pasti mudah saja menyimpulkan tidak sempat. Terlebih yang punya prioritas lain seperti bekerja atau mengurus dua anak dan rumah seperti saya. Untuk menuntaskan tugas yang utama itu saja sudah menguras tenaga. Iya, kan?
Makanya, penting sekali memantapkan diri dulu untuk menjadikan ngeblog sebagai salah satu prioritas. Sehingga kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengatur waktu yang singkat itu agar tetap bisa menulis blog. Kalau saya, membuat target adalah yang paling bekerja. Tentukan target yang tidak terlalu ketat dan tidak pula terlalu longgar. Misal minimal 4 artikel sebulan. Jelas angkanya. Bagaimanapun keadaannya, 4 artikel harus publish. Entah itu sekali seminggu atau acak saja tayangnya, tidak apa-apa.
Selain itu, saya juga telah memperkenalkan aktivitas ngeblog pada anak-anak sejak mereka bayi. Saya sering menulis saat mereka sedang terjaga, bukan menunggu mereka tidur. Lambat laun, itu akan menjadi sebuah kebiasaan yang membuat anak mengerti bahwa ibunya juga punya kegiatan lain. Bersyukur sekali, sekarang malah bikin terharu karena mereka selalu memberi ruang untuk saya ngeblog. "Jangan ganggu, Bunda lagi nulis," itu kata mereka, lalu inisiatif main sendiri atau berdua.
💢 Writers's Block
Masalah yang satu ini pasti selalu menjadi bahan pertanyaan di kelas-kelas menulis yang pernah saya ikuti. Meski writer's block diakui ada dan kerap menggelantungi para penulis, saya memilih untuk tidak mempercayainya. Karena kalau dipaksakan, seperti menulis mendekati deadline, nyatanya bisa-bisa saja. Sampai muncul kalimat familiar, kalau belum dekat deadline, belum muncul idenya. Wah, kalau dokter bedah yang berpikiran seperti ini, bakal nyawa taruhannya.
Kenapa kita tidak menganggap ngeblog itu juga sama dengan profesi lain? Ini lebih kepada pengendalian diri dan berkaitan juga dengan menentukan target tadi. Kita sangat bisa mengambil deadline sendiri kalau memang baru bisa nulis ketika sudah mendekati deadline. Minggu ini harus publish satu artikel atau review tempat wisata ini harus tayang Rabu depan.
Selain itu, writer's block juga sering dihubungkan dengan ketiadaan ide. Khusus untuk artikel blog, banyak banget kejadian sehari-hari yang bisa kita tuliskan. Ambil saja dari itu. Ah, terlalu biasa, tidak menarik, atau sudah banyak yang nulia, jangan terlalu dipikirkan. Perkara nanti ada yang baca atau tidak, itu bukan hal yang bisa kita kendalikan. Selagi bermanfaat, kenapa tidak? Justru yang dialami sendiri itu akan lebih mudah dan nikmat untuk dituliskan. Buktinya, artikel resep MPASI yang saya tulis karena belum bisa nulis itu, di-print oleh teman saya dan di-recook untuk menu anaknya. Setiap tulisan pasti ada jodohnya, itu bukan kiasan belaka.
💢 Insecure
Berhentilah membandingkan kalau cuma bikin insecure. Ngomongnya saja yang gampang, tapi mewujudkannya susah ya, Bestie. Pasti kita pernah overthinking, takut tulisan kita jelek, takut dikomentari negatif, atau tidak percaya diri karena menganggap tulisan atau blog orang lain lebih segala-galanya. Saya pun pernah merasa insecure begitu.
Solusi yang paling besar dampaknya adalah bergabung dengan Komunitas Blogger Indonesia. Dulu, saya pernah sok-sokan tidak mau gabung komunitas karena menganggap komunitas itu hanya diperuntukkan bagi blogger-blogger yang sudah hebat dan berpengalaman. Takut saja terpental dan makin insecure. Untung saja saya dapat hidayah untuk membuka diri dan berani mencoba. Sekarang malah menyesal kenapa tidak melakukannya dari dulu. Aliran dan ilmu dari komunitas berhasil menumpas rasa insecure. Fokus berganti menjadi semangat untuk mengembangkan diri. Malah jadi berkobar!
Pernah di salah satu kelas komunitas, narasumbernya mengatakan "Insecure is killing you". Kalau kita insecure, langkah kita akan berhenti dan kepercayaan diri akan mati. Yang rugi, ya, kita. Yuk, bisa, yuk, mengalihkan insecure dengan fokus lain yang lebih positif.
Satu hal lagi yang menjadi jurus pamungkas dari segala tantangan selama ngeblog, yaitu menetapkan tujuan.
Kalau masih menganggap ngeblog sebagai pengisi waktu, coba deh cari tujuan yang lebih spesifik. Contohnya, saya ingin punya penghasilan dari blog, saya ingin menang lomba blog, saya ingin menjadi ahli SEO dan dipercaya teman-teman bloger untuk optimasi blognya, dan lain sebagainya.
Sebelumnya saya kira menetapkan alasan untuk tetap produktif, sudah cukup menjadi penyemangat agar konsisten ngeblog. Tapi kenapa masih berpikiran untuk berhenti? Makanya saya kuatkan tujuan. Karena saya sudah merasakan potensi blog yang saya kelola, saya harus bisa menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain, menjadi ibu yang membanggakan bagi anak-anak, serta membuktikan bahwa ibu rumah tangga bisa menoreh kebanggaan.
Melalui blog ini, saya harus mewujudkan tujuan-tujuan itu.
"Blogger" sudah lekat betul pada diri saya. Memperkenalkan diri sebagai seorang blogger, adalah kebanggaan tersendiri. Justru sekarang ngeblog itu jadi kebutuhan. Berhari-hari enggak buka dashboard blog, pasti kepikiran. Bawaanya langsung pengin nulis.
Blogger adalah identitas saya. Bukan membual, sepertinya saya akan terus mengisi "rumah kedua" ini selagi masih dimampukan. Karena saya adalah seorang blogger.
Banjir Pengalaman yang Bikin Ketagihan
Pencapaian bagi saya bukan semata-mata prestasi. Tapi jauh lebih luas. Karena setiap hal berharga baru yang saya raih, itulah pencapaian. Baik yang berwujud, maupun tidak.
Nyaris semua kegiatan blogging saya lakukan dari rumah. Benar-benar dari rumah sambil membersamai anak-anak. Tapi, yang dari rumah itu, memberikan banyak sekali pengalaman dan pencapaian yang sangat berarti dalam hidup saya. Bahkan untuk pertama kalinya saya mendapat plakat penghargaan, ya karena blog. Saya sungguh merasa "hidup" di dunia ini.
Memangnya apa sih yang sudah diberikan blog? Berikut beberapa yang terbaik dan yang paling mengubah hidup saya. Iya, mengubah. Blog membuka jalan bagi saya untuk jauh lebih berkembang dan membalikkan pandangan rendah orang-orang yang saya kenal hanya karena pilihan saya menjadi ibu rumah tangga. Saya di rumah, bukan berarti saya tidak bisa apa-apa.
🌸 Bisa Bermanfaat untuk Orang Lain
Bloglah yang membuka kesempatan itu kembali. Tulisan-tulisan saya mulai banyak yang membaca di tahun kedua. Pengalaman mengasuh anak itu ternyata bisa membantu ibu lain, pengalaman senang, sedih, bahkan kekecewaan sekali pun, ternyata bisa memberi manfaat bagi orang lain. Seperti cerita sedot kista tiroid atau tulisan resep MPASI tadi. Bagaimana saya tidak sejatuh cinta itu dengan blogging? Di sinilah kesempatan saya bisa hadir membantu sesama, walau bentuknya sudah berbeda.
🌸 Mengembangkan Diri
Saya belajar menulis dengan mengikuti berbagai kelas. Saya juga belajar SEO dari kelas-kelas dan bertanya kepada teman (walau penyerapan ilmunya tak begitu maksimal). Saya belajar bagaimana mengambil foto yang baik, membuat konten yang ciamik agar bisa mem-branding diri di media sosial, hingga belajar bagaimana mengatur waktu agar 24 jam itu masih cukup untuk saya menulis.
Secara tidak langsung, ini membuka banyak sekali peluang. Saya memanfaatkan apa yang saya dapat dari ngeblog, bukan hanya sebatas untuk ngeblog. Saya mencoba menulis buku solo dan alhamdulillah sudah terbit 2 buku nonfiksi, mencoba pula membuat produk-produk digital seperti e-book atau jurnal menulis yang diramal ke depannya produk seperti inilah yang diminati, mengikuti berbagai proyek antologi fiksi dengan goal kelak bisa menerbitkan novel, hingga dipercaya sebagai pembicara atau narasumber. Sebuah pencapaian yang luar biasa juga, bukan?
🌸 Membuka Pintu Rezeki
Saya sangat bersyukur rezeki dari blog ini bisa memenuhi beberapa kebutuhan pribadi saya, seperti membeli sepatu, baju, atau skincare. Kalau rezekinya lagi deras, saya pun bisa mengajak suami dan anak-anak makan di luar, jajan-jajan, atau jalan-jalan. Yang paling tak terlupakan adalah ketika rezeki dari blog mampu membayarkan uang pangkal sekolah anak sulung saya ketika keuangan keluarga kami tidak stabil. Bahkan motor yang dipakai suami saya sekarang untuk bekerja, juga dari hasil ngeblog. Saya bersyukur sekali. Meski tidak lagi bekerja di kantor, rezeki masih dialirkan melalui blog yang saya kelola.
🌸 Membantah Stigma
Memangnya kenapa kalau ibu rumah tangga? Ini menjadi hal sensitif bagi saya karena saya pernah diremehkan dan diabaikan ketika tidak lagi bekerja. Saya dibilang bodoh, hanya akan menjadi emak-emak lusuh yang bau bawang, hingga ada yang menakut-nakuti kalau suami saya bisa selingkuh karena perempuan di kantor jauh lebih menarik. Mirisnya, semua itu saya dengar dari orang-orang yang terdekat.
Sekarang, ketika saya berhasil memenangkan berbagai lomba blog dan menulis, mampu menerbitkan buku, beberapa kali menjadi pembicara, serta mendapatkan penghargaan, pandangan itu berubah drastis. Saya mematahkan semuanya dengan pencapaian yang saya dapatkan. Meski ibu rumah tangga, saya bisa melakukan banyak hal dari rumah dan berprestasi melebihi ketika saya bekerja dulu. Makanya, membuktikan bahwa ibu rumah tangga tak layak dipandang sebelah mata, menjadi tujuan saya untuk tetap konsisten ngeblog. Mana tahu bisa menginspirasi sesama ibu rumah tangga untuk tetap produktif dengan cara masing-masing.
🌸 Circle yang Positif
Bahkan dari komunitas bloger itu, bagai tali yang saling terkait, saya juga dipertemukan dengan komunitas lain, seperti komunitas kepenulisan, komunitas parenting, komunitas pendidikan, dan komunitas platform digital. Sebuah pencapaian sekaligus rezeki, karena penuh dengan hal baik yang membangun.
Sebanyak itu pencapaian saya selama menjadi bloger. Mungkin kalau digali lagi, pasti akan semakin panjang daftarnya. Saya yakin, sesama bloger yang menjaga konsistensinya pun, pasti juga merasakan pencapaian yang sama berartinya.
Makanya, ketika banyak orang yang membahas apakah blog masih relevan atau tidak, saya tidak terlalu memusingkan. Saya akan selalu menulis blog karena sudah menjadi kebutuhan dan prosesnya telah memberikan begitu banyak pencapaian berharga. Lagi pula di zaman digital sekarang, konten blog yang juga digital, bukannya malah semakin dibutuhkan, ya? Menurut hemat saya sih begitu.
Mengukuhkan Identitas sebagai Blogger dengan Meneguhkan AKAR (Aktif, Kreatif, Adaptif, Relevan)
Dengan terus aktif menulis artikel bermanfaat dan autentik, terus mengembangkan kreativitas, serta adaptif dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan identitas sebagai bloger, itu sudah menjadi cara terbaik untuk membuat blog tetap relevan dan keberadaan para bloger tetap diperhitungkan.
Ini menjadi kali ketiga saya mengikuti BlogerDay secara offline. Pasti selalu ada penyegaran ilmu yang saya dapatkan, baik itu dari pembicara yang dihadirkan, maupun dari sesama peserta. Bahagia saja bawaannya. 2 hari 1 malam di BloggerDay 2025 kemarin, rasanya masih kurang.
BloggerDay 2025 sebenarnya diadakan secara hybrid. Selain 38 peserta offline yang datang langsung ke lokasi acara, juga hadir secara online 70 peserta dari berbagai kota di Indonesia. Rangkaian acara yang dipandu oleh Kak Febria Silaen ini dimulai dengan sambutan dari Ketua Panitia BloggerDay 2025 dan Direktur Eksekutif Komunitas Bloggercrony Indonesia, serta welcome speech dari Pak Ade Subagyo, Ketua Yayasan Indah Berbagi (YIB) yang memperkenalkan YIB dan visi misinya untuk melengkapi sesi BloggerView di BloggerDay 2025. Kemudian dilanjut dengan update informasi mengenai komunitas beserta kepengurusannya. Ada selebrasinya pula, dengan kue ulang tahun dari Kak Andini Harsono yang menjadi Ketua BloggerDay tahun lalu.
Seperti biasa, kemeriahan BloggerDay 2025 dilengkapi dengan lucky draw yang selalu sukses bikin heboh. Spesialnya, kali ini juga ada hadiah bagi peserta offline berupa kesempatan coaching bersama Tripel C atau Canva Creative Class Tuty Queen dan Moh. Suharsono penulis buku puisi Ublik, serta sesi konseling grafologi bersama Ibu Diana Balienda. Tak ketinggalan, pengumuman pemenang Most Wanted Blog Award yang berhasil diraih oleh Kak Lazwardy dari Lombok, dengan alamat blog lazwardyjournal.com. Selamat, Kak!
Hujanan ilmu dan insight yang paling besar bagi saya adalah dari sesi Harry Wahyudi S.Kom, C.NLP, Pembina Youth Skill Foundation, yang membahas tentang Jalan Kreatif dengan Mengenal Diri. Ini sekaligus menjadi pelaksanaan BloggerHangout yang ke-89 dalam BloggerDay 2025. Justru implementasi AKAR (Aktif, Kreatif, Adaptif, Relevan) yang menjadi tema, berlandas pada diri sendiri dan sebaik apa kita mengenal diri.
Pernah dengar limiting belief? Ini merupakan persepsi kita tentang diri kita yang membatasi kemampuan. Sama betul dengan tantangan sebagai bloger yang saya ceritakan sebelumnya. Merasa tidak banyak bisanya, merasa tidak punya waktu untuk menulis blog, merasa tidak punya ide dan buntu, serta overthinking dan insecure. Mungkin akan lebih banyak lagi tantangannya di era digital yang arusnya begitu kuat. Inilah yang harus kita atasi kalau ingin menjadi "AKAR".
Manusia terganggu bukan oleh hal-hal, melainkan dari pandangan mereka terhadap hal-hal tersebut.
-Epictetus-
Kita sangat bisa mengandalkan anugerah sebagai manusia untuk bebas memilih sudut pandang. Setiap tantangan dalam proses menjadi bloger, akan bisa diatasi bila memandanganya secara positif. Misalnya alih-alih stres dengan tantangan dan berniat untuk lari, lebih baik berusaha mencari solusinya. Tapi bila mengambil sudut pandang yang berseberangan, tantangan itu justru akan menghentikan semuanya. Jadinya apa? Saya menganggapnya sebagai sebuah kegagalan.
Perubahan itu sebuah keniscayaan. Yang dibutuhkan adalah adaptasi, bukan membiarkan diri tenggelam dalam perubahan tersebut.
Ketika kita berhasil menjauhkan diri dari limiting belief, muncul perasaan bahagia dan pikiran yang lebih tenang dalam menjalani aktivitas, yang tentunya saya hubungkan dengan aktivitas blogging. Secara tidak sadar, ini akan menjadi magnet kreativitas. Coba deh ingat-ingat, bukankah lebih mudah berpikir kreatif ketika terbebas dari hal-hal yang mengganggu? Itulah yang dimaksud. Sehingga ide-ide untuk mempertahankan identitas sebagai bloger, dengan konten-konten yang bukan hanya bermanfaat bagi dirinya, namun juga bagi lingkungan, akan terus datang.
Pas sesi mentoring di malam harinya, yang lebih seperti sesi ngobrol bareng bersama Kok Harry, saya semakin dapat mengenali diri dengan lebih positif. Saya curahkan kepada beliau tentang sifat ambisius yang saya miliki. Seringkali ambisi itu mengganggu saya karena setiap saya inginkan benar-benar harus tercapai. Seambisius itu! Tapi, keadaan saya masih terbatas soal waktu karena mesti mengutamakan mengurus anak-anak dan rumah. Jadinya keinginan itu lama sekali bisa terwujud. Bikin geregetan dan susah tidur.
Tahu apa jawaban Koh Harry? "Ambisi itu lebih banyak memberikan hal positif atau negatif?" Jleb. Seketika saya langsung bersyukur lahir sebagai orang yang ambisius. Mungkin kalau saya tidak seberambisi itu, diri saya tidak akan seberkembang ini. Mungkin bloger tak membawa saya bertumbuh sejauh ini. Kini, saya menerima ambisi itu sebagai sebuah anugerah, bukan lagi gangguan. Terima kasih banyak, Koh Harry! Singkat, tapi ngena.
Masih berkaitan dengan tujuan saya ngeblog, entah bagaimana bisa sejalan dengan lanjutan BloggerView bersama Pak Whinda Heryawan, Pengawas YIB. Beliau menjelaskan beberapa program yang dijalankan oleh YIB, seperti 100 sumur untuk negeri, kelas Minggu Cerdas untuk anak-anak usia pra sekolah hingga SMA, pengelolaan kebun-kebun organik yang memanfaatkan galon sekali pakai, serta RPTRA untuk anak-anak bermain. Semua kebaikan tersebut didasari oleh satu kutipan,
"Siapa orang yang paling bahagia? Orang yang berhenti nafasnya, tapi tidak berhenti pahalanya."
Jelas saya ingin menjadi salah satu orang yang paling bahagia tersebut. Malah itu menjadi tujuan saya yang saat ini sudah mulai saya rasakan progresnya, berkat beberapa tulisan blog yang berhasil membantu orang-orang di luar sana. Tidak ada yang kecil nilainya dalam urusan kebaikan. YIB sebagai yayasan sosial di kabupaten Bogor, memiliki jalannya sendiri untuk menghadirkan kebaikan, saya pun tentu juga bisa mengukir jalan kebaikan melalui blog yang saya miliki.
Makin semangat saja rasanya meninggalkan rekam jejak digital yang bermanfaat sebanyak-banyaknya.
O iya, dari tadi sudah beberapa kali saya menyebutkan YIB. Lengkapnya, YIB ini menjadi event venue partner yang mendukung penyelenggaraan BloggerDay 2025, termasuk juga Saung Kampung Sawah, dan Warkop Boy sebagai lini usaha, yang berlokasi di Parung, Bogor, Jawa Barat. Mulai dari meeting room, akomodasi, hingga konsumsi selama 2 hari 1 malam bagi peserta offline.
Yayasan Indah Berbagi adalah Lembaga non profit yang mempunyai misi menjadi yayasan yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Yayasan Indah Berbagi bertujuan melahirkan ekosistem yang memberdayakan masyarakat pedesaan melalui program-program di bidang Keagamaan, Ekonomi, Sosial dan Budaya, Pendidikan, dan Lingkungan.
Yayasan Indah Berbagi sebagai yayasan sosial di kabupaten Bogor, kecamatan Parung, mempunyai beberapa unit usaha ekonomi mandiri yang semuanya dikelola oleh relawan dan sebagian keuntungan usaha ini untuk mendukung kegiatan sosial yayasan. Unit usaha ekonomi mandiri yang mendukung kegiatan BloggerDay 2025 adalah Saung Kampung Sawah dan Warkop Boy. Selain menyediakan berbagai menu makanan dan minuman, Saung Kampung Sawah juga, menyediakan fasilitas menginap dan meeting room, baik yang bernuansa pedesaan ataupun ruangan berpendingin dengan fasilitas meeting room pada umumnya.
Kolaborasi, kekuatan di setiap penyelenggaraan BloggerDay. Selain YIB yang menjadi event venue partner, juga ada dukungan para BloggerPreneur yang selalu diberi kesempatan untuk ambil bagian dalam kesuksesan acara.
BloggerPreneur pendukung hadiah acara BloggerDay 2025 di antaranya, Zindo Mart Toko aneka kurma, madu, dan oleh-oleh haji & umroh, Bukufaridapane koleksi novel berbagai genre, spray deodoran tawas kalium Milla Vanilla Hand Made Product, produk dekorasi dinding, tote bag, tumbler, gelas, dan pernak-pernik menarik dari Kamiya Project.
Sebagai bloger yang membutuhkan wadah komunitas untuk bertumbuh dan berkembang, saya sempat deg-degan karena hashtag #LastAnnualBloggerDay yang disebarkan sudah sejak sebelum acara. Saya kira Bloggercony Community akan bubar. Untungnya, BloggerDay 2025 ini bukan akhir, melainkan acara rutin tahunan terakhir. Karena ke depannya, BloggerDay akan diadakan 3 tahun sekali, menyesuaikan dengan periode kepengurusan dan pengangkatan pengurus baru. Jadi, BloggerDay selanjutnya akan dilaksanakan pada tahun 2028, saat anniversary ke-13 Komunitas Bloggercrony Indonesia. Syukurlah.
Malah saya sudah menantikan BloggerDay 3 tahun lagi tersebut. Kenapa?
✅ Di BloggerDay 2022, untuk pertama kalinya saya menanam bibit mangrove di pantai Pulau Tidung.
✅Di BloggerDay 2023, untuk pertama kalinya saya merasakan camping di sejuknya udar Puncak, Bogor.
✅Di BloggerDay 2024, untuk pertama kalinya saya membantu panitia BloggerDay dan datang ke acara pakai jaket cokelat Besty.
✅Di BloggerDay 2025, untuk pertama kalinya saya bermalam di penginapan berkonsep saung di Saung Kampung Sawah dan membuat lilin dari minyak jelantah.
Panjang umur Bloggercrony Community! 1 dekade bukanlah waktu yang sebentar. Tapi, ke depannya akan lebih panjang lagi perjalanan yang akan dilalui untuk merangkul seluruh bloger Indonesia agar dapat mengukuhkan identitas sebagai bloger. Sepesat apa pun perkembangan dunia digital, sebesar apa pun perubahan yang terjadi.
Sekali lagi deh, cieee 1 dekade!
No comments
Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)