Saya Namai "Perjalanan Pelangi"

4 comments

"Mbak, ajarin ngeblog dong."  Beberapa teman pernah mengucapkan ini pada saya. Saya ajarkan? Tentu. Malah rasanya saya yang lebih bersemangat, dengan harapan mereka bisa merasakan dan mendapatkan apa yang saya peroleh dari pengalaman bertahun-tahun ngeblog. 


Saya Namai Perjalanan Pelangi

Namun nyatanya, sebagian besar dari mereka tidak bertahan lama. Berhenti dengan berbagai alasan. Ada yang bilang tidak jago nulis, tidak ada waktu, atau terlalu lelah karena harus mengurus anak. Saya tak terlalu keberatan, bagaimanapun itu keputusan masing-masing. Tapi, yang saya simpulkan, ternyata saya setangguh itu bisa mempertahankan konsistensi ngeblog sampai sekarang, setelah hampir 9 tahun dan sebentar lagi sudah 1 dekade!


Bila menarik ingatan jauh ke belakang, perjalanan yang saya lalui memang tak selalu mulus tanpa hambatan. Langkah saya pun juga dimulai dari kondisi yang penuh ketidaktahuan. Kemudian berlanjut dengan kesulitan membagi waktu, di mana rasanya 24 jam itu jauh dari cukup untuk menuntaskan segala tugas dan target. Apalagi energi sudah banyak terkuras untuk mengurus anak-anak dan rumah. Serta yang justru menjadi basic-nya, mana pernah saya menulis sebelumnya selain untuk tugas sekolah atau kuliah? 


Bisa dibayangkan bukan betapa sibuknya hari-hari saya demi bisa menjadi bloger yang bukan hanya menggebu-gebu di awal? Tak jarang saya begadang, membeli tablet demi bisa tetap menulis blog saat menyusui anak, hingga berburu berbagai kelas untuk melengkapi satu per satu puzzle pengetahuan saya tentang dunia blogging.


Mungkin semua orang bisa membuat blog. Tapi, tidak semua orang bisa konsisten mengelolanya untuk waktu lama.


Bagai badai, saya terus ditempa dengan berbagai rupa tantangan. Yang saya kira ngeblog hanya menulis, ternyata jauh lebih banyak lagi yang mesti dipelajari. Kira-kira macam gunung es, yang tersembunyi di bawah air berkali lipat jumlahnya dari pada yang tampak. Namun, tanpa badai itu, saya tak akan pernah merasakan indahnya pelangi. 


Berkatnya, saya bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan berkembang. Untuk pertama kalinya saya menggenggam plakat apresiasi dan prestasi, memiliki teman-teman se-Indonesia tanpa mewajibkan ke mana-mana, hingga mendapatkan tawaran endorsement yang saya kira hanya artis saja yang bisa, ya, itu berkat ngeblog.


Membungkus semuanya, menjadi bloger mewujudkan mimpi saya untuk membuktikan bahwa ibu rumah tangga tak pantas dikatakan tidak bisa apa-apa, dan kami pun memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. Bahkan dari rumah pun tak jadi masalah. Itulah istimewanya sebuah aktivitas dan produktivitas digital.


Memutuskan Mulai Ngeblog

Memutuskan Mulai Ngeblog

Tidak ada yang spesial, hanya ingin tetap produktif setelah memutuskan resign. Itu pun demi menuntaskan janji pada suami, karena salah satu syarat diperbolehkannya saya resign adalah tetap melakukan aktivitas produktif selain urusan rumah dan anak. Tak berpenghasilan tak apa, yang penting saya bisa terus berkembang meski sudah tak lagi ke kantor.


Saya coba berbagai hal, mulai dari berjualan baju anak, jualan hijab, dan berbagai macam usaha yang saat itu lagi banyak digandrungi para ibu rumah tangga. Tapi ternyata, saya tak menikmati aktivitas tersebut. Akhirnya saya berhenti dari yang namanya berbisnis atau berdagang. Walau rencana begitu banyak, jualan ini dan jualan itu, tapi kalau sayanya yang tidak suka jualan, apa jadinya?


Sampai suatu ketika suami nyeletuk, "Mending kamu ngeblog aja."


Entah kenapa, itu terlihat menarik. Saya segera memulainya tanpa nanti-nanti. Mencari tutorial dan melakukan pengaturan dasar yang saya pelajari secara otodidak. Makanya, saya bersyukur sekali dengan kemudahan akses informasi digital, sehingga saya bisa memulai langkah sebagai bloger dengan lahirnya blog novarty.blogspot.com.


Setelah blog itu hadir lah, saya mulai tahu bahwa menulis tidak semudah yang dikira. Meski hanya "curhat", menuangkannya terasa begitu sulit bagi saya yang tidak terbiasa menulis. Jangankan satu artikel, menyelesaikan satu paragraf saja lama sekali. Saking susahnya, saya hanya mampu menulis yang pendek-pendek saja waktu itu, yaitu resep Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang hanya sekadar menuliskan bahan dan cara membuatnya. Yang penting saya menulis dan blog saya terisi. Cuma itu yang saya inginkan.


Saya lupa pastinya, setelah berbulan-bulan atau melewati tahun pertama, saya mendapatkan ucapan terima kasih dari salah seorang teman yang sangat terbantu dengan resep MPASI yang saya tulis. Sampai dia print dan kumpulkan agar bisa dipraktikkan untuk anaknya. Nah, sejak saat itulah saya menyadari bahwa melalui blog, saya bisa bermanfaat untuk orang lain. Bahkan ketika saya tidak lagi sebebas dulu.


Saya berharap bisa menjadi manusia bermanfaat, dengan sebanyak-banyaknya manfaat yang bisa saya beri, melalui blog ini. Itu keinginan terbesar pertama yang saya tekadkan sejak memutuskan menjadi bloger.


Tantangan dan Bertahan

Tantangan dan Bertahan

Seiring berjalannya waktu dan terus membulatkan konsistensi ngeblog, saya semakin menemukan bahwa diri ini tidak tahu apa-apa tentang dunia blogging. Saya pikir hanya dengan menulis dan mendaftarkan blog di Google Adsense, sudah cukup untuk dikatakan profesional dan mendapatkan cuan. Apalagi setelah memberanikan diri bergabung dalam komunitas bloger, saya melihat bagaimana hebatnya teman-teman bloger yang sudah lebih dulu eksis mengelola blognya. Tamplate-nya keren, alamat blog belakangnya .com, tulisannya mengalir dan enak dibaca, berhasil menuai prestasi, bahkan untuk kali pertama saya mendengar istilah Search Engine Optimization (SEO) dengan segala parameternya yang begitu asing.


Apakah terbukanya kenyataan ini baik bagi saya? Waktu itu, tidak sama sekali. Saya stres dan bingung. Saya mau mulai belajar dari mana? Apa yang paling penting untuk perkembangan blog saya? Apa saya mampu mempelajari semuanya?


Untungnya, Tuhan masih menguatkan langkah saya untuk melanjutkan perjalanan ngeblog ini. Di tengah kebingungan, saya memilih untuk menguatkan kemampuan menulis. Selama ini yang menjadi kawan dan penyeimbang mental saya adalah aktivitas menulis. Blog ini pun bisa terus aktif juga berkat diisi dengan tulisan. Ini yang saya fokuskan.

Bertahun setelahnya, baru saya tahu dengan istilah content is king. Lega sekaligus bersyukur saya melakukan hal yang tepat.


Lagi-lagi, titik stres itu kembali. Tantangan menjadi bloger bukan hanya sebatas teknis, melainkan melibatkan mental, ambisi, manajemen waktu, hingga bagaimana menyesuaikan diri dengan perubahan dunia digital yang pesat. Kalau didetailkan, pasti banyak sekali.


Bukan bermaksud menggurui, saya hanya ingin sharing mengenai tantangan terbesar yang saya hadapi dan bagaimana menyelesaikannya sepanjang menjadi blogger. Andai ada teman-teman yang tengah merasakan hal serupa, semoga bisa mendapatkan energi untuk tak patah semangat dan bisa memanfaatkan yang baik-baiknya dari pengalaman saya ini.


❗ Banyak Tidak Bisanya

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, bisa dikatakan saya memulai  ngeblog benar-benar dari nol. Saya tidak bisa menulis, saya pun tidak pernah mengelola blog. Memang rasanya ingin menyerah saat menyadari begitu banyak daftar kemampuan yang mesti dipelajari. Jangankan melakukannya, memikirkannya saja sudah bikin pusing.


Namun, apa ini alasan untuk berhenti? Jelas tidak. Saya tetap berusaha mempelajari semuanya dan mengikuti kelas-kelas yang tersedia. Baik gratis, maupun berbayar. Sampai saya meyakini satu hal yang membuat perjalanan terasa lebih ringan. "Kita tidak perlu menguasai dari A sampai Z."


Meski memang menguasai lebih banyak hal akan lebih baik, kembali lagi, setiap manusia memiliki keterbatasan, termasuk saya. Setelah dicoba, yang paling membuat saya lelah adalah memikirkan SEO blog. Jujur, sulit sekali rasanya memahami dan menerapkannya. Malah membuat saya malas menulis, saking bebannya. Akhirnya, saya memutuskan untuk menyerahkan ini pada ahlinya saja dan kembali lagi pada content is king. Saya fokus pada bagaimana artikel saya bisa bermanfaat bagi orang lain dan berkualitas. Hasilnya, saya sangat enjoy! Soal SEO, yang dasar-dasar saja sudah cukup.


Jadi, teman-teman tak masalah kok bila tidak menjadi expert di semua skill dalam mengelola blog. Serius, itu banyak banget! Dengan tetap mengutamakan kemampuan menulis, skill pendukungnya silakan disesuaikan dengan kenyamanan masing-masing. Tapi, perlu digaris bawahi, minimal kita tahu dasar-dasarnya dan menyerahkan bagian yang rasanya sulit dilakukan sendiri kepada ahlinya. Bukan ditinggalkan atau tidak diikuti sama sekali. Tidak jago memotret, minimal bisa foto-foto. Tidak pandai membuat template, beli pada pihak tepercaya. Atau tidak mahir SEO macam saya, setidaknya tahu pentingnya menerapkan heading dan subheading serta berkonsultasi berkala dengan pakar SEO tentang "kesehatan" blog kita.


❗ Overthinking dan Insecure

Padahal belum tentu kejadian, sudah takut duluan. Siapa yang juga suka begini? Kita sama! Takut artikelnya jelek lah, takut mendapat cibiran orang lah, tidak ada yang baca lah, dan sebagainya. Paling mengganggu, saya menjadi membandingkan diri dengan bloger lain yang lebih hebat. Merusak mood sekali rasanya. Sampai-sampai berimbas pada emosi dan berdampak pada orang-orang yang saya sayang.


Sebenarnya insecure dan overthinking itu sama saja. Insecure adalah salah satu kelanjutan dari overthinking. Saya pernah mengikuti salah satu kelas yang diadakan komunitas blogger, di mana pematerinya mengatakan dengan lantang, "Overthinking is killing you." Itu memang benar. Memikirkan sesuatu secara berlebihan akan membunuh harapan kita, membunuh kepercayaan diri kita, membunuh semangat kita, dan ya sudah, langkah kita berhenti sampai di situ.


Alih-alih merugikan diri sendiri, mending ingat selalu hukum alam bahwa segalanya pasti punya titik awal. Sama seperti bloger yang kita anggap hebat itu, tentu saja mereka pernah berdiri di titik kita sekarang. Kita hanya melihat pencapaian mereka sekarang tanpa tahu perjalanan apa yang mereka ketahui. 

Lebih baik ganti sudut pandang dan yakini, kalau terus berusaha, pasti kita akan sampai di titik yang sama. Intinya, bandingkan untuk memotivasi.


Saya punya prinsip, ketika saya belum mampu mencapai kedudukan yang sama dengan orang lain yang saya anggap hebat, berarti usaha yang saya lakukan belum sekeras mereka. Selagi saya sibuk menngecilkan diri sendiri, mereka sudah banyak melakukan upaya yang membuat saya semakin jauh tertinggal. Terkesan basi, tetapi prinsip ini bekerja.


Selanjutnya, tujuan awal menjadi bloger juga ampuh untuk meredam overthinking dan insecure. Ketika tantangan yang dihadapi terasa berat, saya kembali mengingat tujuan menjadi seorang bloger, yaitu bermanfaat. Selagi saya berhasil membagikan sesuatu yang bermanfaat melalui artikel yang saya lombakan, bukankah saya sudah mencapai tujuan itu? 


❗ Keterbatasan Waktu dan Mobilitas

Sebagai ibu rumah tangga yang mengurus dua anak dan rumah tanpa ART, membuat saya sulit mengatur waktu untuk tetap konsisten mengelola blog. Sesama ibu pasti tahu banget rasanya. Tak jarang yang bertanya, "Kamu gimana sih Mbak ngatur waktunya?" 


Sebenarnya tidak ada strategi khusus. Pertama yang saya lakukan adalah meletakkan aktivitas blogging dalam daftar prioritas. Menurut saya, yang membuat kita tidak melakukan sesuatu adalah berdasarkan skala prioritas yang dibuat. Kalau tidak prioritas, mudah saja melewatkannya. Tapi, kalau sudah jadi prioritas, bagaimanapun pasti tetap diupayakan.


Kemudian, saya membuat target artikel untuk satu bulan. Sederhanakan pola pikir, bloger itu tidak wajib menulis artikel tiap hari dan sebanyak-banyaknya kok. Saya menargetkan minimal 4 artikel, karena itu yang tidak memberatkan dan tidak pula terlalu santai. Jadi, bila diakhir bulan target belum tercapai, saya bela-belakan begadang atau tidak masak dan jalan-jalan di akhir pekan demi memenuhi target tersebut. Serta yang paling membantu adalah memikirkan ide kapan saja, bukan di saat menulis. Ketemu ide, langsung catat. Jadi, ketika ada waktu menulis, ya hanya untuk menulis tanpa berpikir lama-lama lagi. Lebih cepat selesai jadinya.


Sedangkan soal mobilitas, saya rasa penting pula untuk dibahas karena ini pun menjadi tantangan yang sering bikin hati ciut. Malah ada yang bilang, "Mbak enak di Jakarta, bisa ikut acara-acara blogger." Padahal tidak juga. Misal ada undangan acara atau job-job event terutama di hari kerja, saya pasti tak bisa datang. Siapa yang jaga anak-anak? Sedih? Pasti. 


Berlarut-larut dan menyesali, itu bukan saya. Bila saya tidak bisa ikut acar offline, saya bisa menghadiri yang online. Sesederhana itu. Ilmunya tak akan beda, hanya pertemuan fisiknya saja yang beda. Saya lebih memilih mensyukurinya karena masih ada jalan untuk tetap hadir. Apalagi sejak pandemi, menggelar acara secara daring kini semakin difavoritkan.


❗ Writers's Block

Ada masanya otak saya tak bisa berpikir, kehabisan ide, dan tiba-tiba saja kehilangan kemampuan untuk merangkai kata. Tentu saja ini mengancam konsistensi. Terkadang ketika sudah siap menulis, pikiran blank. Kosong dalam sekejap, padahal tadinya terisi penuh tak sabar ingin dituangkan.


Meski writers's block diakui secara psikologis, saya memantapkan diri untuk tidak mempercayainya. Writer’s block bisa diatasi bila ada kemauan. Coba ingat, kalau sudah dekat dead line, langsung mengalirkan kan idenya? Saya sering memaksakan menulis, bahkan ketika otak saya tiba-tiba kosong sekali pun. Ketika saya memberi sugesti untuk tetap terus menulis dan menyelesaikan apa yang seharusnya segera diselesaikan, otak saya bisa perlahan-lahan kembali berkonsentrasi dan masuk ke dalam tema yang tengah saya tulis. Sesederhana itu cara saya menyiasati writer’s block.


Sebenarnya masih banyak lagi tantangan saya selama ngeblog. Tidak ada yang sudah benar-benar terselesaikan karena semuanya berjalan kontinu. Sampai sekarang saya masih kewalahan membagi waktu untuk menulis blog, masih ada overthinking-nya sesekali, dan mandek tak tahu mau menulis apa. Namun, berkat solusi ala saya tadi, tantangan tersebut tak lagi terasa seberat dulu. Saya bisa kembali enjoy ngeblog dengan segera. 


Semoga di antara tantangan dan solusi tersebut, ada yang relate dan membantu teman-teman dalam mengatasi masa-masa kritis yang mengancam konsistensi ngeblog. Namanya saja perjalanan, ada prosesnya, ada waktunya, dan ada saja kejutannya. Jangan sampai usaha kita yang telah dibangun dari awal, malah sia-sia dan berakhir di tengah jalan. 


Seperti kata Ryu Sun Jae pada Im Sol di drama Korea Lovely Runner, "Bertahanlah sehari lagi". Ayo, siapa yang juga sudah nonton? Percaya deh, ini juga sangat bisa diterapkan saat menghadapi tantangan ngeblog. Ucapkan itu terus sampai tantangan terlewati. Enggak lebay, karena memang tak semua orang bisa bertahan ngeblog dalam waktu lama dengan alasan-alasan yang tak jauh berbeda. 


Saya berani mengatakan karena telah membuktikan, pasti ada pelangi yang menanti di balik badai yang berhasil dilalui.


Indahnya Pelangi, Bikin Tak Mau Berhenti

Indahnya Pelangi, Bikin Tak Mau Berhenti

Ada teman sesama bloger yang bertanya, apa pencapaian terbesar saya selama menjadi bloger. Jawab singkat saja katanya. Tapi, justru saya kesulitan untuk menjawab dengan singkat karena adanya diri saya yang sekarang, sebagian besar adalah berkat ngeblog.


Saya tidak menyangka blog membuka selebar-lebarnya jalan bagi saya untuk mengembangkan diri dan meraih prestasi. Mungkin ada yang tidak percaya, pertama kalinya saya naik ke panggung dan mendapatkan plakat penghargaan adalah karena blog. Saya mampu menulis, mengelola media sosial dengan baik, hingga menemukan banyak sekali peluang, rasanya tak akan saya dapatkan kalau bukan karena menjadi bloger.


Bahkan ketika penghasilan dari blog membantu membayarkan uang pangkal sekolah anak pertama saya, di mana ketika itu kondisi keuangan keluarga kami tidak begitu baik, saya berjanji pada diri sendiri untuk tetap menulis blog selagi masih dimampukan. 


Termasuk ketika relevansi blog dipertanyaan banyak orang, termasuk bloger itu sendiri, dengan perkembangan digitalisasi yang semakin mengarahkan selera masyarakat pada konten-konten visual. Padahal nyatanya blog masih relevan-relevan saja sampai sekarang, dan malah menurut saya akan selalu dibutuhkan di tengah gaya hidup digital. Walaupun amit-amit tak lagi relevan, saya tetap ngeblog karena sudah menjadi kebutuhan. 


Sesuai sekali dengan apa yang dikatakan oleh Harry Wahyudi, Pembina Youth Skill Foundation yang pernah menjadi mentor di salah satu acara komunitas blogger yang saya ikuti, "Ketika apa yang kamu lakukan tak pernah menjadi beban, berarti itulah hobi kamu, passion kamu." 


Pantas saja bagi saya ngeblog itu kebutuhan. Passion saya di sini. Ketika masih ada yang belum berhasil menemukan passion-nya, saya beruntung telah melakukannya sejak lama. Mungkin ini juga yang membuat saya setangguh itu menjaga konsistensi selama bertahun-tahun. Hingga banyak sekali "pelangi" yang keindahannya membuat saya tak ingin berhenti. Identitas saya adalah bloger, lebih tepatnya seorang mom blogger.


🌸 Prestasi yang Membantah Stigma

Prestasi yang Membantah Stigma

Saya yang dulu diremehkan dan disepelekan karena memilih menjadi ibu rumah tangga, akhirnya terbantahkan oleh prestasi yang berhasil diukir melalui aktivitas ngeblog. Saya suka sekali mengikuti lomba blog, yang juga menular untuk mencoba lomba-lomba kepenulisan lainnya. Meski butuh proses yang tidak mudah dan tidak sebentar, akhirnya saya berhasil mencapai beberapa kemenangan.


Pandangan orang-orang terdekat saya otomatis berubah. Mereka tak bisa lagi mengatakan saya tidak bisa apa-apa. dan menyia-nyiakan ilmu sebagai sarjana. Toh sekarang produktivitas dan bekerja itu bisa dilakukan di mana saja. Secara tidak langsung, ini melahirkan tujuan baru saya agar bisa menjadi sosok yang membanggakan bagi anak-anak melalui aktivitas ngeblog. Apalagi kini mereka sudah mengerti bahwa bundanya seorang bloger.


🌸 Terbitnya Buku Solo yang Saya Tulis Sendiri

Terbitnya Buku Solo yang Saya Tulis Sendiri

Tidak pernah terbayangkan saya bisa menulis naskah buku beratus halaman sendiri. Ini berkat kemampuan yang terasah karena konsisten ngeblog dan pengalaman berharga yang mengikutinya. Buku pertama saya berjudul Ketika Ibu Resign, yang mana menjadi awal perjalanan baru saya dan yang mempertemukan saya dengan aktivitas blogging. Kemudian terbit pula buku kedua saya yang berjudul Blogging for Moms, yang menceritakan perjalanan saya ngeblog setelah menjadi ibu. Ada lagi e-book 5 Langkah Mendapat Penghasilan dari Blog yang sudah disebarkan dan juga e-book Menulis Artikel untuk Lomba Blog yang sebentar lagi rampung. 


Harapannya, buku-buku tersebut bisa bermanfaat bagi seluas-luasnya pembaca. Terkhusus untuk sesama ibu rumah tangga, jangan pernah lagi mengerdilkan diri sendiri dan terhanyut dalam stigma yang sayangnya masih melekat di masyarakat kita. Percayalah, digitalisasi membuka seluas-luasnya peluang untuk kita bisa melakukan banyak hal meski dari rumah. 


🌸 Terbukanya Pintu Rezeki

Terbukanya Pintu Rezeki

Bukan tujuan utama sih, tapi siapa yang tidak mau? Saya pikir penghasilan bloger hanya dari Google Adsense saja. Ternyata itu cuma salah satunya. Ada lagi content placement, endorsement, liputan, lomba blog, serta yang tidak berkaitan langsung dengan menulis blog seperti royalti menulis buku, menjadi pembicara atau mentor kelas. 


Saya bersyukur berkali-kali, hasil dari ngeblog ini bisa untuk memenuhi kebutuhan pribadi saya, seperti jajan atau beli skincare. Kalau lagi mengalir deras rezekinya, saya bisa mengajak anak-anak dan suami jalan-jalan atau liburan. Membayar uang pangkal sekolah anak yang telah saya ceritakan juga sebelumnya, dan pernah pula membeli beberapa perabot rumah. Yang terbesar, motor yang dipakai suami berkerja sekarang adalah hasil dari ngeblog. 


🌸 Modal Berharga untuk Banyak Sekali Peluang

Modal Berharga untuk Banyak Sekali Peluang

Beberapa waktu lalu, saya diundang ke salah satu acara yang membahas tentang peluang di dunia digital. Dari acara tersebut, saya mendapat insight bahwa semua orang sangat bisa menemukan peluang dengan memanfaatkan digitalisasi, seperti membuat berbagai produk digital, membuka kelas online, menjadi afiliator, dan sebagainya. Tidak main-main, hasilnya bisa milyaran!


Tentu tidak semata-mata sial nominal. Yang saya garis bawahi adalah saya telah memiliki modal berharga dari pengalaman saya ngeblog, yang juga merupakan salah satu lini aktivitas digital. Sebenarnya ini yang memperkuat tekad saya untuk lebih aktif menulis e-book karena keterjangkauannya bisa lebih jauh dan cepat. Saya pun mulai memetakan, kira-kira apa yang bisa saya upayakan untuk lebih memanfaatkan digitalisasi ini dalam mengembangkan dan mempromosikan diri sebagai bloger. Untung-untung ketularan bisa dapat milyaran juga kan? 


Saya pikir-pikir masuk akal. Mengingat sangat banyak skill yang terlatih selama ngeblog. Kemampuan menulis, membuat konten visual, mengambil foto atau video yang menarik, menggunakan aplikasi editing, SEO, dan masih banyak lagi. Tidak tertutup untuk yang berkaitan dengan digital saja, peluang itu bisa juga berupa menjadi penulis buku seperti Raditya Dika yang juga memulainya dari ngeblog, menjadi penulis script film yang saya tahu sudah ada bloger yang berhasil berprestasi dari sini, menjadi seorang mentor, trainer, public speaker, dan banyak lagi. 


🌸 Relasi Mahal yang Membangun 

Relasi Mahal yang Membangun

Saya bilang mahal karena relasi saya sekarang jauh lebih luas dari pada saat saya bekerja dulu. Tentu ini menjadi sesuatu yang berharga bagi saya, yang secara fisik tak sebebas itu bepergian ke mana-mana karena ada anak-anak yang belum bisa ditinggalkan. Istimewanya, karena pertemuannya diawali oleh ketertarikan yang sama, yaitu blogging, jadi akrab saya bawaannya. Meski tak pernah bertemu atau di kali pertama bertemu. Tak ada malu-malu, jaim, apalagi saling menjatuhkan.


Saya pun diuntungkan dengan aliran ilmu dari teman-teman maupuan komunitas yang saya dapatkan sejak menjadi bloger. Tidak hanya dalam circel bloger saja, saya pun juga dipertemukan dengan komunitas kepenulisan, parenting dan pendidikan. Banyak pula sosok inspiratif yang bahkan kontaknya tersimpan di handphone saya. Sejauh ini, tidak ada yang pelit ilmu. Malah adanya saling semangat membagikan ilmu. 


Mana mungkin saya berpikiran untuk berhenti ngeblog kalau pelangi yang saya rasakan seindah itu? Saya yang rugi kalau sampai tak melanjutkan perjalanan sebagai bloger. Apalagi passion saya di sini, kesenangan saya menulis blog, sekaligus sebagai penyeimbang mental saya. Misal tidak menulis blog berhari-hari karena ada keperluan seperti saat mudik atau liburan, saya yang rindu. 


Terima Kasih Laptop ASUS yang Membersamai

Terima Kasih Laptop ASUS yang Membersamai

Kalau boleh menobatkan satu saksi yang mengikuti apa yang saya lalui, laptop ASUS X407 yang ada di hadapan saya sekaranglah yang paling pantas menerima. Sampai detik ini, sampai saya menulis paragraf ini, susunan keyboard-nya masih bersentuhan dengan ujung jari-jari saya.


Laptop ASUS X407 menjadi laptop dengan masa pakai terpanjang yang pernah saya miliki. Makanya, tanpa dia, saya bisa uring-uringan. Walau ada laptop lain, tak ada yang lebih nyaman selain memakai laptop sendiri. Iya, kan? Bagi saya, ini laptop terbaik karena tepat memenuhi aktivitas saya. Mulai dari blogging, menulis naskah, mengikuti kelas online, riset, hingga mengolah konten visual, semuanya difasilitasi dengan lancar.


✅ Performa Kencang sampai Sekarang

Bagi saya yang tidak sabaran, bahkan bisa meninggalkan apa yang tengah dikerjakan hanya karena perangkat yang digunakan tidak bisa memberi kecepatan yang saya inginkan, ini sebuah keistimewaan. Performa yang kencang dari awal pemakaian, sangat membantu saya untuk bekerja dengan cepat. Sat set sat set, lancar dan aman. Berkat processor Intel Core i7 8th Gen dan RAM 8GB DDR4 yang menyokongnya. 


Media penyimpanan 256 SSD yang menyertai juga membantu performa, karena sejauh yang saya tahu, SSD memiliki kecepatan berkali lipat dari HDD untuk akses file dan lebih hemat energi. Tidak ada kejadian makin lama makin lelet dan memang performas ini yang saya idamkan dari semua perangkat yang saya pakai.

 

Aktivitas Online Lancar

Saya yakin bahwa kecepatan internet bukanlah penentu satu-satunya dari kelancaran aktivitas online. Perangkat yang digunakan juga punya andil. Selama memakai ASUS X407, proses searching, streaming, online meeting saat mengikuti kelas menulis atau sebagai pembicara, upload dan download yang pasti selalu ada, dapat berlangsung dengan sangat baik. Selama koneksi internet mendukung, pasti semuanya lancar.  


Baterai Tahan Lama, Isi Daya Lebih Cepat

Saya terbantu sekali baterai 3-cell Li-ion 33WHrs dalam ASUS X407 yang saya pakai ini masih berfungsi baik sampai sekarang. Meski tidak pernah menghitung pasti, dari kondisi baterai yang penuh, saya bisa non stop streaming hingga sekitar 4-5 jam. Begitu pula dengan aktivitas lainnya, searching, menulis, atau menggunakan aplikasi tertentu.

Selain itu, mengisi daya baterainya pun lebih cepat. Tidak sampai 1,5 jam sudah penuh sejak layar menggelap karena baterai nyaris kosong. Mau pindah-pindah tempat, tak jadi soal. Ya, walau saya pindah tempatnya masih di dalam rumah juga agar bisa menemukan posisi yang lebih tenang.

 

Tetap Adem Dipakai Lama

Selama apa pun saya bekerja bersama laptop, suhunya tidak pernah sampai panas dan bikin khawatir, meskipun saat mengisi daya baterai. ASUS IceCool technology-nya bekerja dengan sangat baik untuk menghindari lonjakan suhu. Lebih aman dan nyaman saja, karena saya suka deg-degan kalau laptop terasa panas.

Lebar dan Ringan

Saya suka dengan layar besarnya! Membuat saya dapat mengatur posisi duduk agar tidak terlalu dekat dengan layar. Biar tidak sakit mata dan sakit pinggang. Terlebih pas edit video yang sudah berderet panjang, atau mengulang membaca tulisan yang baru rampung diketik, saya sangat membutuhkan keterjelasan dan kelegaan tampilan.


14" layar ASUS X407 memiliki desain NanoEdge dengan bezel hanya setebal 7,1 mm, dan rasio screen-to-body mencapai 73,8%. Artinya luas layar mengambil space 73,8% dari total seluruh luas muka perangkat. Area touchpad-nya pun luas, halus, dan responsif. Jari enggak bakal tersendat-sendat. Begitu pula dengan keyboard-nya, besar-besar dan berjarak satu sama lain. Bagi saya pribadi, ini sangat membantu mengurangi typo atau salah ketik.


Tapi, meski lebar, ASUS X407 tipis dan tergolong ringan, lo. Beratnya hanya 1,5 kg dan ketebalannya cuma 2,19 cm. Saya selalu membawa laptop kalau misal mau pergi bermalam atau seharian bila ada yang mau dikerjakan. Berhubung saya memang senang memakai ransel saat bepergian, jadi tidak terasa memberatkan dan tidak memakan space terlalu banyak.

Upgrade Windows 11

Saya kira hanya untuk laptop versi terbaru saja. Ternyata, laptop ASUS X407 ini juga mendapat keistimewaan bisa upgrade ke Windows 11. Gratis! Dari yang saya baca, Windows 11 lebih unggul dari segi performa dan juga dapat menjalankan aplikasi Android. Meski belum sepenuhnya memanfaatkan fitur Windows 11 selain menikmati tampilan yang lebih simpel dan segar, ini menjadi hadiah tersendiri karena ternyata ASUS X407 masih dapat menjalankan versi baru Windows tanpa ada masalah. Tinggal update saja, Windows 11 terpasang.


Bukan cuma laptopnya saja yang tangguh menemani perjalanan para bloger. Sangat diapresiasi, dukungan ASUS terhadap perjalanan komunitas blogger di Indonesia dengan mengadakan berbagai event online maupun offline sejak tahun 2015, semakin mempererat dan menjaga eksistensi bloger di tanah air ini. Selalu seru acaranya kalau sudah ASUS yang adakan!


ASUS saja mendukung perjalanan bloger, masak iya blogernya sendiri tidak? Memang menjadi bloger tidak semudah dan sesantai itu, banyak hal yang mesti dipelajari dan diupayakan, bahkan mesti berpandai-pandai mengontrol diri agar tetap bisa konsisten menulis. Namun, perjalanan ini adalah perjalanan pelangi. Kesulitan itu akan berbuah manis pada waktunya. Itulah yang saya rasakan sendiri setelah sejak dari tahun 2017 aktif menulis blog.


Mungkin timeline-nya tidak akan selalu sama. Ada yang merasakan indahnya pelangi dengan segera, ada pula yang butuh waktu ekstra. Tapi, mencapai tujuan tidak mesti harus terus berlari, berjalan pun bisa, bukan? Selama bisa berada di jalur yang menyamankan, progres itu pasti ada. 


Jadi, teman-teman yang sekarang mungkin sedang mengalami masa-masa sulit untuk meneruskan aktivitas blogging-nya, jangan sampai berhenti dan mengorbankan apa yang sudah dilalui. Bisa jadi, "pelangi" teman-teman akan jauh lebih indah dari apa yang saya rasakan. Penting pula menemukan kenyamanan dan sahabat perangkat yang tepat sesuai kebutuhan. Kalau sudah nyaman, pasti terasa lebih ringan.


Semoga bermanfaat.


Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog 2015 ke 2025 Perjalanan Ngeblogku yang diadakan oleh Gandjel Rel.

4 comments

  1. keren semangat Mbak Novarty, meskipun saat itu memutuskan untuk resign tapi masih terus belajar dan berkarya
    aku sendiri pernah hiatus, menurutku cukup lama, hiatusnya karena nggak update tulisan di blog, tapi masih rajin buat blogwalking aja
    ikutan kelas blogging memang menarik, aku juga suka, minimal kita nambah skill. Aku sendiri awalnya nggak tau teknik-teknik seperti SEO.
    Semuanya berproses

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mbak. Semua berproses.
      Alhamdulillah kita masih bertekad untuk berproses yaaa. Walau memang pasti cara dan timeline kita beda-beda, yang penting kan kemauannya :)
      Semangat selalu Mbaaak

      Delete
  2. Buatku juga blogging itu passion mba. Ga mungkin utk ditinggalkan. Di saat aku jenuh, bosan, dengan menulis semuanya berasa bisa dihadapi.

    Apalagi aku menulis udh sejak SD. Walau dulu hanya di buku diary, dan skr di media digital blog.

    Aku setuju, ga semua ttg blog harus kita kuasai. Cukup yg penting, yaitu menulis. Krn aku percaya konten itu yg utama. Isi tulisan kita bagus, pasti banyak orang yg mencari nantinya.

    Kdg sedih juga sih kalo lihat banyak bloggers yg udh mulai beralih ke video. Aku rindu juga masa2 ketika bloggers msh sering BW tanpa paksaan. Kangen masa2 itu.

    Skr ini demi membuat bloggers ttp semangat menulis aku juga rutin buat kompetisi di grub WA blogger ku. Sengaja pakai hadiah, biar mereka semangat. Lumayan lah, setidaknya bisa mempertahankan banyak bloggers yg masih semangat menulis.

    Semoga bisa menang di kompetisi Asus ini mba. Baguuus tulisannya. Runut dan enak dibaca 😍👍👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah udah lama banget nulisnya dong, Mbak? Andai aku tahu kalau nulis itu semenyenangkan ini, mungkin aku juga nulis sedini mungkin hehe

      Keren punya WA blogger, Mbak. Semangatnya merangkul banyak bloger. Semoga niat tulusnya bisa menjaga konsistensi nulis teman-teman kita :)

      Aamiin aamiin YRA. Makasih banyak, Mbaaaak. Dibilang tulisanku enak dibaca aja, aku udah seneng banget!

      Delete

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)